Present For You

Kupersembahkan, FF pertamaku! Maaf kalau jelek *bow

Title : Present For You

Author : Hanifah Sausan a.k.a Oepieck

Main Cast : Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk, Kim Minra, Hyo Jieun, Super Junior member

Rating : PG-15

Length : Oneshot

Genre : Romance

Disclaimer : Semua yang ada di sini, kecuali Super Junior, hanyalah sebuah karangan fiksi, dan itu asli muncul dari otak saya, jadi mohon jangan diplagiat ya 😀

So, here is the story:

Minra Pov

Uriga mannage doen narul chugboghanun I bamun

Hanuren dari pyoigo byoldurun misojijyo

Nada pesan handphoneku berbunyi, “Hyukjae <3” tertera di layar.

To: Minra
Chagiya, pulang sekolah nanti kau perlu diantar?

Aku tersenyum lalu membalas:

To: Hyukjae ❤
Ne, oppa. Kutunggu di taman jam 3.  Gomawo ^^

­

Masih satu jam sebelum aku bertemu dia. Sebenarnya aku sudah tidak punya jam kuliah, aku hanya menunggu dia yang memang belum jamnya pulang. Aku pacar yang baik bukan?  ^^

Aku berjalan ke taman kampus dan duduk di bawah pohon.

Ah… sudah sebulan kami menjalin hubungan ini. Dan aku senang aku bisa bersamanya. Aku mulai memikirkan kenangan kami berdua dan mulai tertawa. Kenapa? Karena ini lucu. Cara kami bertemu sungguh aneh dan bisa dibilang tidak romantis.

Aku masih ingat…

*flashback mode on*

Kantin sangat ramai. Aku tidak bisa duduk dengan teman-teman junior seangkatanku karena semua bangku sudah terisi. Alhasil, aku dan Jieun duduk di bagian senior. Agak gugup juga dikelilingi sunbaenim sunbaenim yang tidak kami kenal.

Aku makan dalam diam sambil memikirkan film National Treasure yang baru kutonton tadi malam. Sungguh sangat keren mencari sebuah harta karun demi membersihkan nama keluarganya. Oh… mungkin nanti malam akan kutonton lagi. Sayang aku belum punya yang nomor dua. Aku ini hobi nonton film. Hampir semua genre film aku suka. Kecuali horror. Sekali aku dengar kata hantu, aku akan langsung menjauh.

Kantin makin lama makin ramai karena orang-orang mulai berbicara. Tapi sekumpulan sunbaenim di belakangku ini berisik sekali sampai aku bisa dengan jelas mendengar percakapan mereka.

“Hyukjae-ah, bangun!!!” kata seseorang sambil menggebrak meja.

“Aish, shireo!” jawab seseorang yang sepertinya bernama Hyukjae itu.

“Biarkan dia. Katanya semalam dia kurang tidur.” suara orang lain.

“Ngapain dia kurang tidur?”

“Biasa kan…”

“Nonton film.” Jawab yang lain serempak.

“Film apa lagi yang kau tonton kali ini?”

“Ah… entahlah,” jawab orang bernama Hyukjae itu lagi. “National Treasure 2?”

NGUING NGUING NGUING NGUING!!!! Alarm filmku berbunyi keras sekali. Aku sangat ingin menontonnya. Aku penasaran dengan kelanjutan ceritanya.

Segera setelah sunbae-sunbae itu pergi, aku juga ikut-ikutan pergi mengikuti mereka. Kasihan Jieun yang kutinggalkan sendiri. Langkah mereka membawaku ke sebuah fakultas yang agak jauh dari Fakultas Bahasaku. Mau tak mau aku bertanya-tanya dimana ini. Sudah dua bulan aku di universitas ini tapi aku belum pernah menjalahinya sama sekali.

Kami masuk ke sebuah gedung bertuliskan FAKULTAS SENI dan ternyata suasananya jauh dari yang kubayangkan. Tempatnya sangat bersih dan tertata rapi. Orang-orangnya juga terlihat ramah. Tidak seperti bayanganku dimana tempat yang kotor dan orang-orang aneh bercampur jadi satu. Mungkin ekspektasiku terlalu jauh. Hehe… ^_^v

Kuperhatikan ada 13 namja yang sedang kuikuti. Whoa… banyak sekali. Jarang-jarang namja jalan bertigabelas. Biasanya kan 5 atau enam. Aku mengenali salah dua dari mereka, Yesung sunbae dan Kangin sunbae yang dulu menjadi pembimbing ospekku. Kangin terlihat sangar. Aku jadi merinding kalau aku nanti aku ketahuan membuntuti mereka. Hii…

Sunbae-sunbae itu pergi ke suatu tempat, dan sepertinya orang yang bernama Hyukjae itu disuruh naik duluan. Aku pun mengikutinya sampai lantai 5, bagian Seni Tari. Tunggu, tunggu, tunggu, apa aku akan melakukan ini? Aish sudahlah. Siapa peduli.

Kutarik nafas dalam-dalam dan berlari ke arahnya. “Annyeong haseyo…” sapaku.

“Oh~ annyeong haseyo…” jawabnya sedikit kaget.

Dan aku lebih kaget lagi ketika melihat wajahnya. Setahuku dia ini Eunhyuk sunbaenim yang terkenal di kalangan junior bersama 12 orang lainnya. Jadi yang tadi itu mereka… Tapi kenapa dipanggil Hyukjae ya? Tahu begini aku tidak usah membuntuti mereka. Oh… na ottokae?

“Ee.. nuguseyo?” tanyanya.

“Mm… Choneun, Kim Minra imnida. Aku seorang junior,” jawabku seadanya.

“Ada perlu apa?”

“Eh…” haruskah ku katakan? Rasanya tidak penting.

“Ne?”

“Eh, tadi ku dengar di kantin, semalam kau menonton National Treasure 2 ya? Maaf aku menguping pembicaraan kalian,” kubungkukkan badan. Oh yeah, pertanyaan yang sangat bagus.

“Ah, gwencahanayo. Ne, tadi malam aku menontonnya. Waeyo?”

“Eh… maaf kalau tidak sopan, tapi apakah kau punya filenya?”

“Ne, aku punya. Kau mau minta?” jawabnya enteng.

“Oh, bolehkah?” bagaimana ia bisa membaca pikiranku?

“Tentu saja,” jawabnya sambil tersenyum. Semudah inikah? “Kau suka film action ya?”lanjutnya.

“Iya, di rumah aku punya beberapa.”

“Jinjayo? Bolehkah aku juga minta filenya?”

“Boleh. Jadi kita barter ya, sunbae,” jawabku senang. Mudah sekali bicara dengannya.

“Iya,”jawabnya juga senang. “Oh, aku belum memperkenalkan diriku. Aku Lee Hyukjae, tapi orang lebih mengenalku sebagai Eunhyuk,” ia mengulurkan tangannya.

“Oh…” aku mengangguk-angguk sambil menjabat tangannya. “Senang bertemu denganmu Hyukjae-ssi.”

“Senang bertemu denganmu juga. Jadi kapan kita…”

“Besok akan kubawakan flashdisk,”

“Kalau begitu, bolah aku meminta nomor hp mu?”

“Oh, boleh.” Kuberikan nomor HPku. “Sampai jumpa besok, sunbae. Gamsahamnida…” kubungkukkan badan dua kali.

“Ne, sampai jumpa besok,” katanya. Lalu kami berpisah.

Ah, ternyata berjalan sukses. Aku nekat sekali ya, bicara pada sunbae yang belum aku kenal. Tak sabar untuk menonton filmnya besok!!!!

Sekarang yang aku bingungkan adalah, bagaimana caranya aku bisa kembali ke kantin tadi ya?

*flashback mode off*

Aku masih tertawa mengingatnya.

Ternyata dia memang seperti yang dibicarakan orang-orang. Baik dan mudah berinteraksi dengan orang lain. Dan ternyata lebih tampan kalau dilihat dari dekat. Hihi… ^^. Cara bertemu kami aneh kan? Tapi aku suka.

Sejak saat itu, kami suka bertukar file film dan menemukan bahwa selera kami sama. Kami selalu nyambung setiap ngobrol dan dia sangat suka bercanda. Kami pun jadi akrab. Sayangnya, karena kami beda fakultas dan banyak tugas, jadi tidak bisa sering-sering.

Suatu hari aku sedang ingin menonton film The Da Vinci Code, aku pun bertanya pada Hyukjae apakah ia punya filenya.

*flashback mode on*

To: Hyukjae
Hyukjae-ssi, apa kau punya film The Da Vinci Code?

To: Minra
Ne, aku punya. Kau mau? Akan kubawakan besok.

To: Hyukjae
Ah, gomawo. ^^

Esoknya, ketika aku bertemu Hyukjae…

“Gomawo, Hyukjae-ssi,” kataku sambil menerima flashdisk pemberiannya.

“Ne, kalau kau punya film baru, tolong di-copy ya!”

“Ok! Aku pulang dulu ya, sunbae. Annyeong!”

“Annyeong!”

Malamnya, aku langsung mengopy file itu ke laptopku dan mengopy film baru ke flashdisk Hyukjae. Setelah menonton The Da Vinci Code – yang sangat keren – dan mematikan laptopku, aku menaruh flashdisk Hyukjae di atas meja belajar, lalu tidur dengan nyenyak.

Esoknya…

KRINGGGGGG!!!!

“Ah… sudah pagi…” kataku sambil bangkit dari tempat tidur, mematikan jam weker, lalu turun ke bawah untuk sarapan. Ketika aku sudah siap untuk berangkat ke kampus, aku kaget karena aku mendapati flashdisk Hyukjae sudah tidak ada di meja belajarku.

Di laci tidak ada, di tumpukan buku tidak ada, di kolong meja juga tidak ada. Aku terus mencari tapi tidak ketemu. Dimana ini??? Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 9. OMO!! Setengah jam lagi aku harus sudah ada di kelas.

Aku berangkat dengan panik karena takut telat dan juga takut karena merasa telah menghilangkan barang orang. Aku hampir jatuh karena tersandung, dan hampir ketinggalan bus. Karena rumahku cukup jauh, butuh sekitar 20 menit untuk sampai di kampus. Untungnya, aku sudah ada di kelas sebelum pelajaran dimulai.

Saat istirahat menjadi saat yang cukup berat, karena kami biasanya bertemu pada saat seperti ini. Aku belum terlalu dekat dengan Hyukjae tapi sudah berani menghilangkan flashdisknya. Aku sih OK OK saja kalau harus mengganti, tapi tetap saja ini hal yang tidak sopan. Dan aku takut kalau dia marah. Semoga dia sibuk. Tapi…

“Minra-ah!” suara seseorang yang sangat tidak ingin kutemui. Kulihat Hyukjae memanggilku dari pintu kantin dengan wajah riangnya. Apa jadinya kalau ia murka?

Dengan langkah gontai aku berjalan ke arahnya, sambil terus menimbang-nimbang apa yang akan kukatakan. “Sunbaenim…”

“Waeyo?”

“Aku…” ottokae? Lebih baik bagaimana? Ah, mengaku lebih baik dari pada berbohong. “Hyukjae-ssi… mianhae… jeongmal mianhae…” Kulihat ia menungguku bicara, terlihat sedikit bingung kurasa. Dan dengan satu tarikan nafas, kukatakan, “Tadi malam aku menaruh flashdiskmu di meja belajarku lalu kutinggal tidur. Tapi ketika aku akan berangkat ke kampus, tiba-tiba flashdiskmu sudah tidak ada. Kucari di segala tempat tapi tetap tidak ketemu. Aku sampai hampir telat tadi pagi. Mianhae, jeongmal mianhae…” aku membungkuk cukup dalam. Semoga ia memaafkanku.

Kudengar ia menghela nafasnya lalu bersandar pada tembok. JLEB! Ia pasti marah. Kudongakkan kepala untuk melihat raut wajahnya.

Dan sejenak, aku terpesona. Entah  apa yang terjadi. Hyukjae terlihat… Ah, rasanya seperti di film-film, ketika ada seorang pangeran yang sangat tampan dan baik, yang sangat mempesona sampai bisa membuat lututmu bergetar. Apakah tiba-tiba ada syuting film di sini? Kenapa ada banyak efek cahaya?

“Hh…” ia menghela nafas lagi dan tiba-tiba semuanya terasa nyata kembali. “Sudahlah tidak apa-apa,”

“He?” aku tidak salah dengar? “Kau tidak marah?”

“Buat apa marah,” ia tersenyum, tiba-tiba efek cahaya tadi muncul kembali. Sekarang seperti melihat malaikat turun dari langit. Sumpah, Hyukjae terlihat sangat tampan. Lalu tiba-tiba pipiku merona.

“Minra-ah? Gwenchanayo?”

“Gwe, gwenchana,” Minra-ah! Cepat bangun! “Benar kau tidak marah?” ia menggeleng. “Sunbaenim… aku jadi tidak enak. Kuganti saja ya?”

“Aniyo, tidak usah,”

“Ah, kumohon jangan menolak. Kuganti saja ya? Jebal…”

“Mmm, baiklah…”katanya akhirnya. Dan aku menghela nafas lega. “Ah! Aku punya ide. Kalau kau menggantinya dengan satu pak CD Blank mau tidak?”

“CD Blank? Boleh. Untuk apa sih?”

“Kau tahu tidak?”

“Mwolla…”

“Ya~! Aku kan belum memberitahumu,” katanya. Aku tertawa. “Memori laptopku tinggal 300 MB,” lanjutnya.

“Mwo?? 300 MB?” tanyaku. Ia mengangguk. “Pasti penuh film ya?” Ia mengangguk lagi. “Kau mau memburningnya ya?” Ia mengangguk lagi. Dasar.

“Baiklah akan kubelikan. Tapi kau benar-benar tidak marah kan?”

“Anni, harus kubilang berapa kali sih? Aku tidak marah. Lihat raut mukaku,” ia tersenyum sangat cerah sambil memukul-mukul telapak tangannya dengan tangan yang satunya lagi. “Aku tidak marah kan?”

“Ya~! Sunbaenim!”Aku sudah takut dia akan marah tapi dia malah bercanda. Hyukjae hanya tertawa, dan mau tak mau aku pun ikut tertawa. Aku baru sadar kalau bersama Hyukjae pasti sesenang ini.

“Sudah sana pergi! Kutagih hari Senin ya?” katanya sambil ber-hush-hush.

“Ya~! Kau mengusirku? Baiklah, tidak jadi kuganti,”

“Ah, anni anni. Kim Minra yang cantik,” Dia bilang apa? Bisa kurasakan pipiku merona lagi. “Tolong belikan aku CD Blank ya? Besok Senin kutagih, OK?”

“OK,” aku terkikik geli melihat perlakuannya yang seperti ini. “Baiklah kalau begitu, sekali lagi maaf sudah menghilangkan flashdiskmu. Gomawo sudah tidak memarahiku. Aku balik dulu ya sunbae,”

“Ne, belajar yang baik ya?” ia mengacak-acak rambutku. Aku hanya bisa tertunduk sambil berusaha menyembunyikan pipiku yang kembali merona dan dadaku yang kali ini tiba-tiba berdetak lebih cepat. Baru kali ini ia menyentuhku.

“N… ne… Annyeong,”

“Annyeong!” aku pun berlalu berlalu masih sambil menundukkan kepalaku.

*flashback mode off*

OMONA! Sekarang aku jadi malu sendiri mengingat diriku saat itu. Entah kenapa aku jadi terus memikirkan Hyukjae dan perasaan suka mulai tumbuh dihatiku.

Hari itu juga, kuseret Jieun ke toko komputer. Entah kenapa kubelikan Hyukjae satu pak CD Blank dengan kualitas yang bagus. Aku pulang ke rumah dan kutaruh CD Blank itu di atas buffet. Seninnya…

*flashback mode on*

“Minra, kau bawa?” tanya Hyukjae tiba-tiba yang entah datang dari mana.

“Bawa apa?” tanyaku kebingungan. “Oh iya! Ya ampun. Sunbae, aku lupa!” Ia berdecak. NGUING NGUING. I’m in danger!!! “Besok kubawakan ya! Sumpah! Aku sudah belik kok! Ya, besok ya?”

“Aish.. Jangan pasang wajah seperti itu, aku jadi tidak tega. Ya sudah, besok ya?”

“Ne, besok. Gomawo Hyukjae-ssi,”

*flashback mode off*

Aku tak tahu apa yang aku pikirkan sampai aku lupa membawanya. Dan aku tak tahu apa yang aku pikirkan lagi sampai aku lupa membawanya esoknya, esoknya lagi, esoknya lagi dan seterusnya, sampai satu bulan kalu tidak salah. Dan entah terbuat dari apa hati Hyukjae sampai ia tidak pernah marah setiap kali aku bilang, “Sunbaenim, aku lupa!”. Dan ini membuatku semakin suka padanya. Kami bahkan masih sering tukar-tukaran film. Dan berinteraksi seperti biasa.

Tapi karena ia datang setiap hari untuk menagihnya, selalu mengingatkanku untuk membawanya, dan aku selalu lupa, jujur aku merasa tidak enak.

Maka malam itu…

*flashback mode on*

“Umma, ingatkan aku untuk membawa CD Blank yang kutaruh di buffet itu ya!”

Aku berlari ke ruang tengah, “Appa, ingatkan aku untuk membawa CD Blank yang kutaruh di buffet itu ya!”

Aku naik ke kamar adikku, ”Ya~! Adik jelek! Ingatkan onnie untuk membawa CD Blank yang kutaruh di buffet itu ya!”

Aku lari ke kamarku. “YA~! KIM MINRA!!! CEPAT BANGUN, SIAP-SIAP KE KAMPUS LALU BAWA CD BLANK DI BUFFET ITU!!!!” teriakku pada HP ditangan. Kutekan ‘Stop’, lalu ku-set rekaman tadi sebagai nada alarm. Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur lalu berdoa, “Ya Tuhan, terima kasih atas segala nikmat-Mu, semoga besok pagi aku tidak lupa membawa CD Blank Hyukjae sunbae. Amin.” Kuucapkan selamat tidur pada semua bonekaku, lalu aku tertidur pulas.

***

”YA~! KIM MINRA!!! CEPAT BANGUN, SIAP-SIAP KE KAMPUS LALU BAWA CD BLANK DI BUFFET ITU!!!! YA~! KIM MINRA!!! CEPAT BANGUN, SIAP-SIAP KE KAMPUS LALU BAWA CD BLANK DI BUFFET ITU!!!!”

Aku buru buru bangun lalu turun ke bawah untuk sarapan dan siap-siap berangkat ke kampus sambil bersyukur karena ternyata alarmnya ampuh juga, hehehe…. Ketika aku sudah berganti baju dan turun lagi untuk berangkat, adikku berteriak dari kamarnya, “Onnie jelek! Jangan lupa bawa CD Blank di buffet!” aku hanya balas berteriak, “Ne! ADIK JELEK!”

Lalu umma di dapur juga berteriak, “Minra! Jangan lupa bawa CD Blank di buffet!” dan kubalas dengan anggukan. Appa yang sedang membaca Koran hanya berkata, “Minra, jangan lupa bawa CD Blank di buffet ya,” Lalu kujawab, “Ne, appa.” Omona, appa ku ini memang cool sekali. Hahaha. Kuambil CD Blank di atas buffet lalu berangkat ke kampus.

Akhirnya, aku tidak lupa membawanya! Ye!!!! I did it! Hahaha! Aku tidak sabar menunggu waktu pulang nanti. Hyukjae sunbae, hari ini akan kuberikan CD ini untukmu. Hihihi…

***

Waktu pulang, aku menunggu-nunggu Hyukjae di tempat biasa tapi ia tak muncul juga. Jieun yang sedari tadi main entah kemana tiba-tiba datang dan menyeretku pergi.

“Uri odiegayo?” tanyaku.

“Ke taman kampus, temani aku nonton hiburan, ya?” katanya.

“Ha? Memang ada hiburan apa di taman? Nanti kalau Hyukjae-ssi mencariku bagaimana?”

“Sudahlah, kau diam saja. Kau bisa mengsmsnya untuk ketemuan. Aku lagi sendirian nih. Masak kau tidak kasihan padaku? Temani aku OK?”

“Ah.. arraseo,” kataku sedikit tidak rela sebenarnya. Tapi akhir-akhir ini aku jarang main dengan Jieun, dia sering kutinggal sendiri. Kasihan, kutemani sajalah, untuk menebus kesalahanku.

Ketika sampai di taman, banyak orang berkumpul mengitari sebuah area ditengah taman. “Ada apa sih?”

“Sebenarnya ini alasan mengapa aku mengajakmu kesini,” ujar Jieun. Ha? Sumpah aku tidak mengerti. “Meskipun kau tidak pernah cerita, tapi aku tahu, kamu suka Hyukjae sunbae, kan?”

“Bagaimana…?” aku hanya kaget sendiri.

“Ah, 6 tahun lebih menjadi sahabatmu masak sampai tidak tahu sifatmu? Ni ya, ku kasih tahu. Kau selalu senang kalau bersamanya. Kau selalu tersenyum kalau ada dia. Kau akan sangat merasa bersalah kalau ia tidak marah, meskipun sebulan berturut-turut kau lupa membawa CD Blank pesanannnya. Padahal kau suka tidak peduli dengan namja kecuali yang membintangi film-film yang kau tonton. Sudah jelas sekali. Kau suka…” ia berbisik di telingaku, “Lee Hyukjae.”

“Ah.. omo…” aku speechless. Memang sebegitunya ya?

“Ini adalah pentas pertunjukan dari Fakultas Seni,”

“Jinjayo? Berarti ada…”

“Mm. Benar. Kemarin kau sedikit bad mood karena merasa bersalah padanya. Dan hari ini akhirnya kau membawa CD Blank itu. Aku dengar dia ikut perform, jadi mungkin tidak bisa mengambil CD Blank ini, padahal kau sudah membawanya. Makannya kau kubawa ke sini, supaya kau bisa memberikannya nanti. Ayo kita nonton!”ia menarikku ke barisan depan penonton. Sekarang anak-anak seni teater sedang perform sebuah drama klasik korea, entah apa judulnya. Yang jelas, sangat bagus, karena aku dan Jieun yang menontonnya sampai menangis. Akting mereka memang patut diacungi jempol. Tepuk tangan yang sangat meriah terdengar begitu mereka mengakhiri drama tersebut. Johayo.

“Penampilan yang bagus bukan?” tanya MC.

“NE!” jawab penonton.

“Kalian mau lagi?”

“NE!”

“Mau lagi??”

“NE!!”

“Gureom, kami akan menampilkan penampilan terakhir yang akan menutup pertunjukan hari ini. Ini merupakan kolaborasi dari mahasiswa Seni Musik dan Seni Tari,” Penonton berseru-seru. Aku hanya bisa deg degan menunggu. Aku tahu kalau Hyukjae mahasiswa seni tari, tapi aku belum pernah melihatnya menari.

“Kalian siap?”

“SIAP!!!!”

“Kalau begitu, mohon sambutan yang meriah untuk SUPER JUNIOR!!!” penonton bergumuruh.

Dua belas namja maju ke tengah. Kenapa cuma berdua belas ya? Setahuku ada 13. Kulihat Hyukjae berdiri di tengah. Kuperhatikan sunbae yang lain. Omo! Itu sunbae-sunbae yang dulu kuikuti! Ha? Kangin sunbae  dan Yesung sunbae bisa nge-dance? Wah, unexpected sekali.

Salah seorang diantara mereka memberi tanda pada teknisi, dan musik pun dimulai.

Terdengar suara perkusi yang sangat keras, lalu mereka mulai menari menggerakkan tangan mereka. Menepukkan tangan dan menendang-nendang tanah sesuai irama musik. Lalu seorang diantara mereka maju dan ngerap sedikit, diikuti seorang … Hyukjae? Hyukjae bisa ngerap? Aku tidak pernah tahu.

Dua orang lagi mengucapkan beberapa baris lirik lalu musik makin berdentum-dentum. Dan pertujukkan yang sesungguhnya dimulai. Hyukjae seperti dilempar ke depan dan dia berpopping dance dengan sangat keren! Setelah itu mereka mulai menyanyikan lagu. Ya ampun… suaranya… aku meleleh.

Naui gobaek achime nun tteosseul ttae bogosipeuneolguldo

Naui gipeun jameun kkaewobeorin saramdo

Geunyeo apeman seomyeon babogateun naingeol

Eotteon maldo hal su eopge sumi makhyeoojanha

Neoui meoritgyeol geu songarak geu misoreul jitneun ipsul kkeutkkaji

Nuguwado bakkul su eomneun geunyeomanui saekkkare nan ppajyeobeoryeosseo

Heeoseutaildo geu nunbitto dokteukhan ne maltukkajido

Nae insaengeul bakkul suga isseulmankeum chungbunhaesseo

[Super Junior – A Man In Love]

Ya tuhan, koreografinya keren sekali! Mereka sangat keren! Lebih keren dari adegan-adegan menegangkan di film. Sekarang aku tak heran mengapa mereka sangat terkenal di universitas.

Tiba-tiba musik berhenti dan terdengar efek-efek suara. Namja-namja itu duduk menyebar di tanah. Seperti menunggu. Lalu tiba-tiba ada hentakan-hentakan baru, mereka memukul-mukul tanah dan bertepuk-tepuk sesuai irama. Mereka berkumpul lagi dan melakukan gerakan-gerakan lain. Aku sekarang baru sadar kalau Hyukjae sangat sering ada di depan dan dia menari dengan sangat lincah. Apa dia lead dancer? Kalau iya, berarti cool sekali!! Rasanya 2 nilai plus langsung bertambah hari ini untuknya. Pertama, dia bisa nge-rap dan kedua, dia bisa menari dengan sangat bagus.

Mereka berkumpul lagi dan melanjutkan koreografi. Hwa… Keren… mungkin sebentar lagi aku akan hilang kesadaran. Untungnya lagu berakhir dengan gerakan yang menakjubkan, aku tidak jadi pingsan deh. Gemuruh suara penonton menyadarkanku kalau dari tadi aku deg degan tidak karuan. Ah… ramenya sudah seperti nonton konser saja. Aku dan Jieun pun akhirnya ikut bertepuk tangan dan bersorak-sorak.

Tiba-tiba Hyukjae melihat ke arahku dan sedikit kaget. Tapi dia langsung tersenyum dan melambaikan tangan. Oh… lututku bergetar. Ottokae? Aku hanya bisa membalas senyumannya sambil melambaikan tangan juga. Jieun yang melihat kejadian itu langsung memelukku sambil berjingkrak-jingkrak. Aku sempat speechless, tapi akhirnya ikut berjingkrak jingkrak saking senangnya. Tapi karena ini aku jadi kehilangan sosok Hyukjae, padahal niatnya aku akan memberikan CD Blank ini.

Aku berlari ke backstage, tapi tak satu pun dari sunbae-sunbae tadi terlihat. Aku berlari mengitari taman tapi tetap tidak menemukan mereka ataupun Hyukjae. Akhirnya aku pulang sambil bersedih hati. Padahal aku sangat senang hari ini bisa melihatnya menari. Huwuwu…

*flashback mode off*

Tahukah kalian? Setelah itu aku semakin suka pada Hyukjae. Aku memikirkanya seharian. Bahkan aku sampai memimpikannya. >///<

Tapi entah kenapa… (nangis darah) keesokan harinya aku lupa lagi membawa CD Blank yang semalam kutaruh di dalam buffet.

*flashback mode on*

Aku sedang duduk di bawah pohon. Kulihat Hyukjae menghampiriku sambil melambaikan tangan. Aku membalasnya. Kali ini dia datang bersama seorang teman. Aigoo, sekarang aku deg degan. Sudah… bersikaplah biasa.

“Kau bawa?” pertanyaannya setiap hari.

“Sunbaenim, kemarin aku bawa, tapi begitu aku mencarimu setelah perform kemarin, kau tidak ada. Aku tidak jadi mengambalikan deh. Sekarang aku lupa, hehehe…” sumpah, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan.

“Ya~! Kemarin kau membawanya? Aish, tahu begini kutagih kemarin pagi!”

“Hihihi,”

“Eh, ngomong-ngomong kau sudah kenal dengan sahabatku ini kan?” Hyukjae merangkul namja di sebelahnya. Kuperhatikan mukanya, kalau tidak salah, dia ini,

“Annyeong haseyo, Lee Donghae imnida,” ucapnya lalu membungkuk.

Oh iya. Donghae sunbae. Kemarin kan dia juga ikut perform. “Annyeong haseyo, Kim Minra imnida,” aku juga membungkuk.

Donghae tiba-tiba seperti mendapat pencerahan, “Oh, jadi kau Kim Minra?”

“Ne Sunbaenim,” kenapa dia tanya begitu?

Donghae berbisik di telinga Hyukjae. Hyukjae seperti mengiya-iyakan Donghae sambil tersenyum gaje, kulihat pipinya sedikit merah. Membicarakan aku ya? Memang aku salah apa? “Waeyo, Hyukjae-ssi?”

“Anniyo,” jawabnya masih dengan senyum gaje.

“Ngomong-ngomong, kemarin sunbae keren sekali lho,”akhirnya kukatakan.

“Jinjayo? Apakah sudah cukup untuk menarik perhatian yeoja-yeoja?” Donghae tertawa.

Mwo?? “Ya~! Sunbae! Aku tidak jadi suka ah!”

“Anni, anni… Kemarin itu cuma untuk menggalang dana saja,”

“Oh… “ aku hanya mangut-mangut.

“Minra!! O― Hyukjae-ssi. Annyeong haseyo…” Jieun datang entah dari mana dan sepertinya kaget melihat ada Hyukjae dan Donghae di sini.

“Annyeong haseyo,” jawab Hyukjae.

“Eh, Donghae-ssi, perkenalkan, ini sahabatku, Jieun,” kataku.

“N-Ne, sunbaenim. Choneun Hyo Jieun imnida,”

“Lee Donghae imnida,” lalu sepertinya mereka saling pandang atau bagaimana aku tidak tahu karena Hyukjae mengajakku bicara.

“Ya sudah, besok bawa ya? Laptoku sudah kritis nih, kalau perlu aku ke rumahmu untuk mengambilnya,” kata Hyukjae.

Mwo? Dia mau ke rumahku? Jangan! Jangan! “Yah, doakan saja semoga aku tidak lupa,” jawabku sekenanya.

“Hu! Dasar. Ya sudah, ayo Donghae!”

“A― Ne,” Kulihat Donghae sedikit kaget, begitu juga Jieun. Hyukjae ternyata ikut memperhatikan kejadian ini. Kami saling pandang lalu terkikik bersama, “Kekeke, dua orang ini tertarik satu sama lain rupanya…”

“Duluan ya, Annyeong!”

“Annyeong!”

Aku menunggu sampai mereka sudah cukup jauh. “Ya~! Kau suka Donghae-ssi ya?” tanyaku to the point pada Jieun.

“Bagaimana kau tahu?”

“Hei, aku ini kan sama saja denganmu. Enam tahun bersama tapi tetap tidak tahu sifatmu itu kebangetan. Sumpah, tadi kalian eye contact ya? Aku agak kaget lho. Menurutku, dia juga suka padamu lho,”

“Ah, kau ini. Sebenarnya aku suka Donghae sudah agak lama, dan hari ini entah aku dapat berkah apa bisa kenalan dengannya. Ternyata kita sahabat yang perhatian satu sama lain ya?”

“Iya dong!” jawabku PD, lalu kami berpelukan. Maaf, kami memang suka lebai kalau sudah bersama. “Ngomong-ngomong, kita dua sahabat, menyukai dua orang yang juga bersahabat, hahaha, bisa pas ya?”

“Hhh, iya. Eh, tapi, ini cuma pemikiranku saja lho, menurutmu Hyukjae aneh tidak?”

“Aneh kenapa?”

“Dia setiap hari nagih dan bilang kalau sangat butuh, tapi tidak pernah marah kalau kau lupa membawanya,”

“Iya juga ya?… Tapi kan dia memang baik!” aku membela Hyukjae.

“Hish, dasar. Tapi masih kerenan Donghae sunbae dong!” Jieun tak mau kalah.

“Ya lebih keren Hyukjae lah!”

“Donghae!”

“Hyukjae!”

“Donghae!”

“Hyukjae!”

“Donghae!”

“Ah! Mereka semua sama-sama keren!” kataku.

“Ahahahaha….” Kami berdua tertawa.

“Ya sudah, yuk, pulang!” Kami pun pulang ke rumah masing-masing.

***

“Yak! Dorong! Terus! Terus!” terdengar suara appa di ruang tamu. Ada apa sih? Aku buru-buru masuk ke dalam rumah.

“ANDWAE!” teriakku begitu melihat buffet tempat aku menaruh CD Blank itu berpindah tempat dan dibalik depan belakangnya. “ANDWAE! Ya~! Appa! Di dalam situ ada CD Blank temanku!” protesku.

“Terima kasih ya, sekarang ruang tamunya jadi lebih lebar,” ujar appaku pada dua orang pria tak dikenal yang tadi membantunya mendorong. Mereka akhirnya pergi dan appa mulai bicara padaku. “Siapa suruh menaruhnya disitu?” Sudahkah aku bilang kalau appaku selain COOL ia juga KEJAM?

“Appa~! Lalu bagaimana aku harus bilang ke temanku? Ambilkan… jebal…” aku terus memohon.

“Ambil sendiri,” dengan COOL ia berjalan ke ruang keluarga.

“Ya~! APPA!” teriakku. Tapi appa tidak merespon. Aish, kalau seperti ini, gimana caranya aku bisa ngasihin CD Blank ini ke Hyukjae???

Aku mencoba mendorong buffet itu tapi tak ada yang bergerak sedikit pun. Buffet ini dari kayu jati dan tinggi 150 cm, isinya banyak pula. Terang saja aku tidak bisa memindahnya. “Oh… na ottokae?” ujarku frustasi. Akhirnya seharian ini aku ngambek sama appa.

Esoknya aku cuma bisa menatap pasrah buffet yang posisinya terbalik itu. Sekarang aku benar-benar merasa tidak enak pada Hyukjae.

***

“Jeongmal mianhe…” ujarku pada Hyukjae ketika ia menagih siang harinya.

“Sudahlah tak apa. Bukan salahmu kok,” Tuh kan? Pasti dia bilang begitu. Aku makin tidak enak lagi. “Tapi kalau sempat, diambil ya? Hehehe… Kalau perlu aku ke rumahmu untuk mengambilnya sendiri,”ucapnya, sama seperti kemarin.

“Hahaha… pasti kuambil kalau bisa,”

“Yasudah, aku duluan ya! Bye!”

“Bye,” kuperhatikan selagi menjauh. Hyukjae, kenapa kau baik sekali padaku?

*flashback mode off*

Tahukah kalian kalau selama sebulan aku tetap tidak bisa memberikan CD Blank itu padanya? Tahukah kalian kalau selama itu Hyukjae tetap menagih dan tetap tidak marah? Selama sebulan itu kami tetap berinteraksi seperti biasa, dan bahkan dia sempat beberapa kali meminta film baru padaku dengan flash disk barunya. Selama sebulan itu dia selalu bilang kalau dia akan ke rumahku sendiri untuk mengambilnya. Kukira dia sungguh-sungguh, tapi dia tak pernah datang.

Dan aku mulai bertanya-tanya dalam hati, dia bilang mau ke rumahku, tapi tidak pernah datang. Dia bilang laptopnya kritis, tapi terus meminta film. Dia tidak pernah marah, padahal kalau aku jadi dia, aku sudah sebel sendiri. Kenapa ya? Dan aku mulai setuju dengan pemikiran Jieun yng dulu itu. Ini agak aneh.

Sejenak aku melupakan pemikiran itu karena…

*flashback mode on*

“Nih,” appa menaruh sepak CD Blank di hadapanku. Spontan aku mendelik. Ini CD Blank yang itu.

“Gomawo appa!!!!” kupeluk appaku. Sudahkah aku bilang kalau selain cool dan kejam appaku ini juga baik hati?

“Eh, sudah sudah. Sekarang jangan suka uring uringan lagi ya?”

“Ehm!” aku mengangguk bahagia.

***

Aku sudah tidak sabar memberikan CD Blank ini pada Hyukjae. Pasti dia senang. Dia kansudah menanti selama sekitar 2 bulan. “Hyukjae aku kasih surprise ah! Aku langsung ke fakultas seni saja,” pikirku.

Aku dengan senang berjalan ke Fakultas Seni, naik ke lantai 5. “Hyukjae, I’m coming!!!”

Aku melongok ke setiap ruangan dan akhirnya samar-samar kudengar suara Hyukjae dan beberapa orang lain dari ruang latihan. Langkahku terhenti tepat di depan pintu ketika sadar bahwa mereka sedang membicarakan seseorang. Aku.

“Ya~! Eunhyuk-ah! Kapan kau menembak dia?” sepertinya suara Kangin sunbae.

“Nuguya?” kali ini suara Hyukjae.

“Aish, siapa lagi? Minra, Kim Minra,” dadaku berdegup cepat. Ini apa maksudnya? Apakah ini artinya dia juga suka padaku?

“Iya, hyuk. Kapan? Sudah lima bulan lebih sejak kau suka padanya lho,” suara ini kukenali sebagai suara Donghae. Lima bulan lebih?? Sekarang jantungku mau copot.

“Ah, mwollayo. Sepertinya dia tidak tertarik padaku,” Ya~! Siapa yang tidak tertarik padaMU? “Lagipula akhir-akhir ini sepertinya dia jadi aneh kalau bertemu denganku, kenapa ya?” Jeongmalyo? Mungkin karena aku merasa tidak enak padamu. Lain kali aku akan tersenyum dengan cerah. “Mungkin tidak ada kesempatan…”

“Hei, jangan menyerah. Pasti ada kesempatan,” ujar seorang namja yang tak kukenali. Tapi yang jelas, aku mengangguk pasti mengiyakan perkataannya.

“Iya, jangan menyerah dulu. Lagi pula kalian terlihat cocok loh,” seorang namja yang tidak kukenal lagi. Jinjayo?

“Jinjayo?” kata Hyukjae.

“Ehm, kalau kuperhatikan dari jauh, kalian suka ngobrol lamaa sekali,”

“Iya hyung, sudah seperti sepasang kekasih sungguhan,” jantungku benar-benar mau copot.

“Oh, jinjayo?” Hyukjae hanya ber-oh ria.

“Sudah tembak saja dia. Tuh orangnya ada di luar,” DEG! Suara Yesung sunbae. Bagaimana ia bisa tahu aku ada di sini?

“Hyung jangan bercanda,” kata Hyukjae sambil tertawa.

“Eh, beneran! Cek saja di luar kalu tidak percaya,” OMO! Aku harus segera pergi. Tapi terlambat. Seseorang sudah terlebih dahulu menjulurkan kepala.

“O― Eunhyuk-ah!” seorang namja yang ku kenal sebagai Leeteuk sunbae langsung memanggil Hyukjae begitu melihatku. Sekarang aku hanya bisa berdiri mematung. Lalu makin lama makin banyak orang menjulurkan kepalanya. Kangin, Heechul, Ryeowook, Shindong, Kibum, Donghae, Hankyung, Kyuhyun, Sungmin, Siwon, lalu Yesung sunbae. Yesung sunbae, bagaimana kau tahu??

“O― Kim Minra!” ujar mereka hampir berbarengan. Mereka semua tahu kalau aku Kim Minra?

“N-ne, a-annyeong haseyo…” aku membungkuk. Na ottokae…??

“Ye, annyeong” kata mereka lalu menyingkir dari pintu.

Hyukjae pun keluar, “O―Minra?” Aku hanya bisa menunduk. Leeteuk sunbae menepu-nepuk pundak Hyukjae lalu mengacungkan jempolnya, diikuti yang lainnya.

“Emm, kami pergi dulu ya, mau makan,” ujarnya. Lalu bersama yang lain meninggalkan kami berdua. Bisa kulihat Hyukjae sedikit tidak rela ditinggal.

Oh… na ottokae? Pergi saja lah, “Sunbae, aku pergi dulu ya?”

“Tunggu,” Hyukjae menahanku. “Tunggu, ada yang mau aku bicarakan.” Yak, ini dia. “Kau tadi mendengar pembicaraan kami ya?” Aku mengangguk. “Berarti kau sudah tahu apa yang mau aku katakan.” Ne, aku tahu, sekarang aku malu. “Tapi sebelumnya aku mau memberitahumu sesuatu,”

Ia menghela nafas. “Sebenarnya,” Iya, sebenarnya… “Aku menyukaimu sejak kau pertama kali masuk universitas ini,” Mwo?? “Aku melihatmu ketika ospek dan aku tak tahu kenapa… langsung suka padamu. Tapi aku tidak berani bertanya soal namamu pada Kangin hyung yang dulu jadi pembimbingmu. Sampai akhirnya kau malah datang sendiri padaku. Aku berpura-pura tidak mengenalimu dan berkenalan denganmu, dan dengan cepat mendapat nomor HP mu. Jujur, waktu itu aku senang. Kita jadi kenal satu sama lain, dan kau ternyata orang yang menyenangkan. Aku senang bisa tukar-tukaran film denganmu dan ngobrol macam-macam. Sampai suatu hari kau bilang kau menghilangkan flashdisk ku. Jujur aku sedih dan kecewa, tapi entah kenapa aku tidak bisa marah padamu. Lalu kau dengan senang hati mau menggantinya dengan CD Blank, kecewaku terobati. Tapi ketika kutagih, kau selalu lupa membawanya. Jujur aku kecewa lagi, tapi aku tetap tidak bisa marah padamu. Akhirnya aku menemukan bahwa aku bisa bertemu denganmu setiap hari. Jadi ketika aku menagih, aku juga berharap kau lupa membawanya supaya aku bisa menagihnya besok, dan seterusnya, dan seterusnya. Mungkin aneh, tapi aku memang ingin melihatmu setiap hari. Tapi akhir-akhir ini kau terlihat murung setiap kali bertemu denganku, sejenak aku berpikir untuk berhenti… Ah, apalagi yang harus kukatakan?” ia mengacak-acak rambutnya. Aku hanya speechless mendengar pernyataannya barusan. Semua pertanyaanku terjawab sudah. Aku sungguh tidak menyangka. Sungguh tidak menyangka.

Waktu berlalu dalam kebisuan. Aku kasihan melihatnya dalam ketidakpastian. Minra, katakan sesuatu! Katakan sesuatu!

“Hyukjae-ssi,” ia sedikit kaget dan langsung mendongakkan kepalanya. “Sebenarnya aku juga mau mengatakan sesuatu.” Kutarik nafas, “Alasan mengapa aku terlihat murung akhir-akhir ini karena aku merasa tidak enak pada sunbae. Aku selalu tidak bisa menepati janjiku. Aku jadi tidak enak harus bertemu sunbae. Mianhamnida…” aku membungkukkan badan. Hyukjae sekarang menghela nafas lega. “Dan aku juga mau bilang,” kutarik nafas lagi, tiba-tiba jantungku berdegup sangat cepat. “Sebenarnya… aku juga suka pada sunbae, jadi―”

Seketika itu juga Hyukjae berlutut di depanku sambil memegang tanganku. “Kim Minra, maukah kau menjadi… yeojachinguku?”

Aku hanya diam saja. Dia menembakku? Dia menembakku? Kulihat ia tersenyum sambil menunggu. Ah.. dia tampan sekali… Kim Minra! Katakan ya! Katakan ya!

“Ya, aku mau,” ujarku mantap. Sejenak hening, hanya detak jentungku yang terdengar sejuta kali lebih keras.

Tiba-tiba Hyukjae bangkit dan memelukku, “Gomawoyo,”

“WOOO!!!!!! Eunhyuk-ah!!! Chukaeyo!!!! WOO!!!” Suara ini datang dari arah koridor. Satu persatu, 12 namja itu keluar dari persembunyiannya. Jadi dari tadi mereka menguping?

Mereka langsung mengerubuti Hyukjae dan memeluknya, yang menjadi pusat perhatian hanya tersenyum gaje memperlihatkan gusinya yang lucu. Aku tersenyum melihatnya. Dan seketika aku sadar kalau aku sekarang sudah jadi yeojachingunya dan dia sudah jadi namjachinguku. OMO! Aku masih tidak percaya!

Selagi dikerubuti, dia menatapku sejenak lalu berbisik, “Saranghae…”

Aku cuma bisa kaget dan menjawab, “Nado…”

*flashback mode off*

Ah, masih tersenyum mengingat akhir yang indah ini. Indah kan? Iya kan? Meskipun awalnya aneh. Hehehe…

Uriga mannage doen naru

To: Minra
Tunggu aku ya, chagi. Sebentar lagi sampai.

Ah, kalau dia bilang sebentar lagi, berarti memang sebentar lagi. Kulihat namja itu datang dari arah kanan. Kulambaikan tangan, ia membalasnya. Hyukjae langsung berlari menghampiriku lalu mengecup keningku. Bahkan meskipun sudah berkali-kali ia melakukannya, aku tetap deg degan… >///<

“Mau pulang sekarang?” tanyanya.

“Nanti dulu. Ada yang mau kuberikan padamu.” Aku mengambil sebuah kotak berbungkus kertas kado yang kuhias dengan pita warna biru dari tas ranselku. “Saengil Chukae Lee Hyukjae! It’s a present for you!”

“Sekarang tanggal 4 April??” aku mengangguk. Masak dia lupa? “Sumpah, aku benar-benar lupa.”

“Hish, dasar. Sekarang buka kadonya!”

Ia membuka kado yang kuberikan dan terkejut melihat isinya. “Dulu waktu kita jadian, aku sangat senang sampai lupa memberikannya padamu. Jadi kuberikan sekarang. Kau suka?”

“Tentu saja! Aku sudah menunggu barang ini selama 3 bulan tahu!” katanya sambil mengeluarkan sepak CD Blank dari kotaknya. “Gomawo, jeongmal gomawo…” aku hanya tersenyum.

Life couldn’t get better (hey~)

nan nol pume ango nara

purun darul hyanghe nara (ho~)

jamdun noui ib machul koya

Ringtone HP ku dan Hyukjae berbunyi pada waktu yang bersamaan. Kami mengangkatnya bersama, “Yoboseyo?”

“Ya~! Eunhyuk-ah, kau bersama Minra ya? Apa Jieun juga di situ?”

“Ya~! Minra-ah, kau bersama Hyukjae ya? Apa Donghae juga di situ?”

Dua orang di seberang sana berbicara di saat yang bersamaan. Aku dan Hyukjae tertawa. Dasar Donghae dan Jieun. Mereka memang jodoh rupanya.

“Ya~! Jawab aku!” kata mereka bersamaan lagi. Kami tertawa. Kenapa mereka tidak jadian sekalian saja sih? Dari dulu malu malu kucing terus. Kekeke~

Hyukjae merebut HPku dan mengaktifkan loudspeaker HP kami, ia menangkupkan keduanya lalu menaruhnya di tanah.

“Ya~! Minra! Apa Donghae di situ? Dia sedang apa?”

“O― Jieun-ah, kau di situ rupanya,”

“O― Donghae-ssi.”

Aku dan Hyukjae lagi-lagi hanya terkikik geli. Kekeke~

Tiba-tiba hujan turun. Hyukjae berlari ke tengah taman. Aku dengan senang hati mengikutinya. Kami bermain air seperti anak kecil. Kami tertawa bersama, menyenangkan. Hyukjae menatapku sejenak lalu tiba-tiba menciumku sekejap. First kissku. Meskipun hanya sebentar tapi bisa membuat seluruh tubuhku panas. Aku menatapnya dan ia bilang, “And that is a present for you,” sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya.

Hujan mulai berhenti dan kulihat pelangi di langit.

Ah… hidup memang indah! ^_^

[The End]

Iklan
11 comments
  1. babyhae said:

    Saya datanggggggggggg^^

    wow….komen ya
    1. jalan ceritanya beda. satu lagi yang bikin beda itu waktu Hyukjae bilang “aku kecewa, tapi aku gak bisa marah”. Jujur. gak cheesy…suka banget

    2. cara penulisannya juga oke. sangat menggambarkan mereka masih remaja.

    3. dua kalimat terakhir, aku suka 😉

    sekian komen dari saya *bow*

    • oepieck said:

      betapa senangnya hatiku baca komen dari eonni. sama sekali gak nyangka eonni bakal suka.
      jujur sempet ngerasa ni ff fail, tapi ternyata responnya bagus
      gak nyangka gak nyangka gak nyangka…. *antara bingung dan bersyukur

      3. dua kalimat terakhir, sebenernya aku dah bingung ending yang enak gimana, dan dua kalimat itu melintas begitu saja. syukur kalau eonni suka ^^

      makasih banget udah mau mampir 😀
      kalau aku ada kekurangan jangan sungkan” buat ngritik ya eonni?

      • babyhae said:

        ahahaha…aku malah lebih seneng lho ada yang bisa kubaca^^ dan itu nyangkut pula ehehehehe

        aku suka banget sama kalimat itu. kesannya, ada harapan di sana. tersirat, tapi bikin tersenyum

        sama-sama….iya kalo aku nemu ntar aku kasih tau kok yang gimana enaknya biar lebih oke 🙂

  2. Jung Ha Bin said:

    Hoaaaa…. :O daebak onn! Bikin yg Donghae & Jieun dong! Haha

    • oepieck said:

      annyeong 😀
      makasih ya dah mau baca, hehe. buat donghae ama jieun belum kepikiran… kkk~
      salam kenal, upik imnida 😀

  3. hai, oepick <—- sksd
    aku udah baca yang ini kemarin di ffindo
    maaf gak ninggalin komen di sana karena aku gak boleh ninggalin komen di sana, hehe

    aku suka, di antara ff2 freelance lain yang bikin aku pusing, cuma ini yang kusuka
    terasa sederhana dan nggak maksa, jadinya gak lebay2 juga^^

    waktu si minra nekat ngajak hyuk kenalan hanya demi mendengar judul film itu, jangan bilang itu dari pengalaman nyata?? hahaha, aku juga begitu, malah lebih memalukan lagi dari itu, teriak-teriak dari candi borobudur ngajak foto bareng orang korea, sungguh bikin malu emak saya yang langsung pura-pura nggak punya anak orz… *kenapa malah nyampahin komen orang???*

    aku suka bagian minra nguping di luar saat 13 cowok2 bigos itu lagi ngegosipin dia di dalam dan yesung bilang "tuh orngnya di luar" memang yesung punya aura luar biasa -____-

    dan adegan 13 cowok jalan serombongan di koridor, aku benar-benar membayangkan bbf dengan skala yang lebih besar XD

    adakah ff lain yang kamu tulis? kayaknya di blog ini cuma ada beberapa entry? *celingak-celinguk*

    oke, sekian dulu komen saya, bye~~~

    • oepieck said:

      uwaaa!!
      heeshinju main ke blog ku! XDD
      dapet berkah apa aku ini?

      hai juga, eonni <—- sksd juga
      panggil saja upik

      aduh, makasih banget ya pujiannya 😀
      padahal saya masih punya banyak kekurangan

      bukan pengalaman pribadi sih, imajinasi aja
      tapi emang kalo udah napsu tu gak taksir" tempat ama situasi
      kayak situ ngajakin orang korea foto bareng di borobudur, kwkwkw~
      eh, saya orang magelang lho (trus?) #geje #lupakan

      saya ikut seneng deh kalo situ terhibur baca ff ini 😀
      sebenernya banyak ide cerita yang ngantri,
      tapi karena keterbatasan saya dalam menulisnya disertai faktor-faktor lain (baca: males n mood"an), jadilah itu ff g jadi"
      tapi kalau ada yang berminat pingin baca, bisa saya usahakan untuk bikin ^^

      eh, eonni author favoritku di FFindo lho
      2 ff terakhir eonni keren banget
      yang Nampyeongsaeng: Eunhyuk itu mengena banget
      yang Letter to SJ itu amat sangat jujur
      eonni nulisnya bukan sebagai fan biasa tapi sebagai orang yang emang cinta sama SJ
      orang" sperti itu berani angkat bicara kalau emang g suka tapi mendukung sepenuh hati atas jalan yang dipilih ama SJ
      salut ama eonni 😀

      uwa~ masih gak percaya heeshinju main ke blog ku! XD

      • aduh, aduh, kenapa gak percaya ^^
        aku yg asli loh, bukan si heeshinju abal2 itu #uhuk

        makasih, aku tahu upik sering baca ff-ku, tapi aku baryu tahu upik nulis juga

        yg namanya mood emang halangan terbesar buat nulis ff
        aku mengerti itu

        ah iya, aku emang napsu banget ngejar2 tu cowok korea, ceritanya ada di blog ku sih, kalau2 iseng buat mampir
        begitu juga cerita ngejar2 cowok jepang XD

      • oepieck said:

        iya sekarang udah percaya kok, hehehe 😀

        mau numpang tanya nih, mumpung ada empunya ^^
        – gimana cara eonni ngatasi keterbatasan dalam menulis sehingga cerita yang sedang digarap jadi sesuai ama imajinasi dan harapan kita?
        makasih~

        ya ampun, situ nekatan ya, kkk~
        kemarin udah sempet mampir, tapi belum sempet baca
        aku terbang ke sana dulu ya~ ^^

  4. gimana ya… hmm, mungkin jawabannya sama dengan semua author2 amatir lain, nunggu mood hehehe

    • oepieck said:

      yah~
      kekeke

      oh iya, selamat ya suaminya situ dapet award di MBC entertainmen awards ^_^v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: