The Old Man

Pagi tadi wali kelasku meminta kami membawa pas foto untuk pendataan siswa. Ternyata stok foto di rumahku habis. Dan di sinilah aku, duduk manis di atas sofa empuk di sebuah percetakan foto dekat pasar sambil menunggu fotoku jadi. Di sampingku ada oppa yang sedari tadi hanya diam.

Niatnya aku ingin bermain dengan handphoneku, tapi ternyata benda itu tertinggal di rumah. Aku langsung menggerutu mengutuki kebosanan ini.

Tanpa sadar mataku memperhatikan jalan raya yang terlihat dari dinding kaca. Banyak kendaraan berlalu lalang. Dan kelihatannya sinar matahari sedang terik-teriknya. Tukang parkir saja sampai mampir masuk ke dalam percertakan untuk merasakan angin AC yang memang sejuk.

Tiba-tiba pandanganku menangkap sesosok haraboji yang terlihat amat malang. Badannya kurus dibalut pakaian lusuh yang kebesaran. Kulitnya gelap sedangkan rambutnya sudah beruban. Wajahnya memelas. Kedua tangannya masing-masing membawa setundun pisang dan ia berjalan sambil tertatih menuju percetakan ini.

Sekilas orang pasti tahu kalau kakek ini berniat menjual pisang-pisang tersebut. Maka ketika ia mendorong pintu masuk, aku cepat-cepat bersumbunyi di balik lengan oppa. Karena aku tahu, tidak seorang pun di sini akan membeli pisang-pisangnya. Dan aku tidak tega kalau harus melihat itu.

Rasanya miris ketika akhirnya kakek itu keluar setelah mendapat penolakan mentah-mentah dari pemilik percetakan. Aku memandangnya dengan tatapan penuh iba. Ya, siapa yang tidak iba melihat keadaan seseorang yang seperti itu? Di usianya yang tua ini ia harus mencari uang untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Dengan cara seperti itu pula. Aku jadi malu pada diriku sendiri yang kalau butuh uang tinggal minta eomma dan appa.

Kenapa juga di luar cuacanya harus panas? Apa belum cukup penderitaan kakek itu? Aku menjadi semakin tidak tega.

Kenapa harus seperti ini? Aku harus menyalahkan siapa? Orang yang menolaknya pasti punya alasan untuk menolaknya. Mungkin mereka tidak punya uang. Mungkin mereka memang tidak butuh pisang.

Kenapa aku hanya bisa diam?!

Tanpa memandangku, tiba-tiba oppa berkata, “Kau, jangan pernah jadi orang seperti kakek itu… Kau harus jadi orang kaya,”

Mendengar perkataannya, aku memberinya tatapan penuh arti. Setelah semua yang kupikirkan, kalimatnya terdengar seperti olok-olok.

Tapi ternyata, namja yang 4 tahun lebih tua dariku ini belum menyelesaikan kalimatnya. Kali ini sambil memandang mataku dalam, ia melanjutkan, “Nah, kalau kau sudah kaya, tugasmu adalah membantu orang-orang seperti mereka.” Sambil tersenyum ia mengacak rambutku. “Arasseo dongsaengie?”

Tak kuasa aku membalas senyumannya. “Arasseo oppa,”

Kutatap lagi sosok kakek yang kini hanya tinggal sebuah garis di jalan raya. Semoga ia mendapat kehidupan yang jauh lebih baik setelah ini. Amin.

 

_The End_

 

 

Halo halo, author balik lagi. Hehehe šŸ˜€

Ceritanya aku bikin sesi baru di blog ini, judulnya “Story of the Day”
Nah, isinya berupa kisah-kisah pendek tentang realita kehidupan di masyarakat. Beserta pesan moralnya! ^^
Kayak cerita di atas. Ada pesan moralnya kan? *reader: mana thor? #PLAKK!!

Yah, author pasrah deh bikin cerita ini. Meskipun nanti pada gak nyantol maksudnya, tapi aku berharap ada yang mengerti dan termotivasi. ^^

Eh, tapi kayaknya yang di atas itu cerita gatot deh… T^T

Seperti biasa, komen amat sangat diharapkan
Kritik pun amat diperbolehkan, #tenang der, aku gak mbrakot xp

Iklan
2 comments
  1. mumuturtle said:

    Bagus ceritanya, aku dpt kok pesan moralnya. .
    Itu kakeknya suruh krmhku ajah. . Aku beli deh pisangnya buat bkin gorengan. . Kwkw. .
    Cerita selanjtnya ditunggu. .

    • oepieck said:

      hahaha… makasih mu
      >> kurang greget je tapi

      y ntar nek ketemu lagi tak suruh ke rumahmu :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: